LAPORAN
PRAKTIKUM
INTERNETWORKING
MODUL
II ROUTING STATIC
DISUSUN OLEH :
Pradika Destarini
15102110
Tanggal Praktikum : 31 Oktober 2017
Asisten Praktikum :1. Pribadi Charisna Hanif
14101109
2. Aditya Rizky Utama 14102047
3. Mutia Annisa 14102089
LABORATORIUM JARINGAN KOMPUTER
INSTITUT
TEKNOLOGI TELKOM
JL. DI. PANJAITAN 128 PURWOKERTO
2017
MODUL II
ROUTING STATIC
I.
DASAR TEORI
Router
adalah komputer general purpose (untuk tujuan yang lebih luas) dengan dua atau lebih interface jaringan (NIC Card) di
dalamnya yang berfungsi hubungan 2 jaringan atau lebih, sehingga bisa
meneruskan paket dari satu jaringan ke jaringan yang lain. Untuk jaringan
kecil, interface-nya adalah NIC Card, sehingga router
mempunyai 2 NIC atau
lebih yang bisa menghubungkan dengan jaringan lain. Untuk LAN kecil yang terhubung internet, salah
satu interface adalah NIC
card, dan interface yang
lain adalah sembarang hardware jaringan misal modem untuk leased line atau ISDN atau koneksi internet ADSL yang digunakan. Router bisa dibuat dari komputer yang
difungsikan sebagai router, jadi tidak harus hardware khusus misalnya cisco
router .[1]
Default gateway dari suatu jaringan merupakan sebuah
router yang digunakan untuk
meneruskan paket-paket dari jaringan tersebut ke jaringan yang lain. Biasanya LAN dikonfigurasi hanya mengetahui LAN miliknya dan default gateway-nya.
Jika dalam suatu LAN tidak
ada default gateway-nya maka LAN tersebut tidak bisa terkoneksi
dengan jaringan lainnya. Jadi supaya dapat melakukan routing maka setting/Konfigurasi jaringan perlu ditambahkan
satu lagi yaitu default gateway.
Sekarang ada tiga parameter
yang penting pada setting/konfigurasi jaringan
yaitu :
1. IP Address
2. Netmask
3. Default Gateway.
Tabel Routing
Supaya router bisa melayani permintaan untuk meneruskan pengiriman data,
maka router harus mempunyai tabel
yang dipakai sebagai patokan data ini harus di kirim ke jaringan yang mana?
Tabel yang dipunyai oleh router
disebut sebagai tabel routing yang
berisi NETID dan Default gatewaynya.
Gambar 1.1
Contoh desain jaringan dengan dua subnet
Berdasarkan gambar 1, berikut
ini adalah skenario pengiriman data dari komputer 192.168.1.5 ke komputer
192.168.2.36 :
1.
Komputer 192.168.1.5 ingin mengirim data ke 192.168.2.36,
menyadari bahwa alamat tujuan tidak berada di jaringan lokal, maka komputer
mencari daftar “default gateway” pada property TCP/IP yaitu
192.168.1.13. Paket data kemudian dikirim ke Gateway tersebut.
2.
Pada komputer 192.168.1.13 paket data tersebut kembali
diperiksa, dan ditemukan pada tabel routing
bahwa paket tersebut dapat dikirim ke jaringan
192.168.2 lewat
IP 192.168.2.43
3.
Via IP 192.168.2.43 akhirnya data dapat ditransmisi ke tujuan
yaitu 192.168.2.36
Router yang mempunyai tabel routing
yang dikelola secara manual disebut sebagai static routing. Tabel
tersebut berisi daftar jaringan yang dapat dicapai oleh router tersebut. [2]
Routing static adalah jenis routing yang dilakukan admin/pengelola jaringan untuk
mengkonfigurasi informasi tentang jaringan yang dituju secara manual. Ciri-ciri
routing static adalah sebagai
berikut:
·
jalur spesifik ditentukan oleh admin jaringan
·
pengisian tabel routing
dilakukan secara manual oleh admin jaringan
·
biasanya digunakan untuk jaringan berskala kecil
Cara
kerja routing static ada 3 bagian
yaitu:
·
Konfigurasi router
yang dilakukan oleh admin jaringan
·
Router
melakukan routing berdasarkan
informasi yang diterima dari tabel routing
·
Admin Jaringan menggunakan perintah ip route secara manual untuk konfigurasi
router dengan routing static dan routing
static berguna untuk melewatkan paket data yang ada pada jaringan.
Ada beberapa parameter yang ada pada routing, yakni:
·
Destination,
adalah alat tujuan dan network mask
dan biasanya diisi dengan 0.0.0.0/0 untuk semua jaringan
·
Gateway
adalah datagram yang dapat dicapai melalui antarmuka
·
Pref.
Source adalah alamat tujuan paket dan meninggalkan router melalui alamat IP
·
Distance
(0-255) adalah jarak administrator
jaringan dari router
Keuntungan menggunakan Routing static
1.
Meringankan kinerja processor router
2.
Tidak ada bandwidth
yang diguanakn untuk pertukaran informasi dari tabel isi routing pada saat pengiriman paket
3.
Routing
static lebih aman dibandingkan routing dinamis
4.
Routing
Static kebal dari segala usaha hacker untuk men-spoof
dengan tujuan membajak trafik
Kerugian
Menggunakan routing static
1.
Administrator
jaringan harus mengetahui semua informasi dari masing-masing router yang digunakan
2.
Hanya dapat digunakan untuk jaringan berskala kecil
3.
Admisnistrasinya cukup rumit dibanding routing dinamis, terlebih jika banyak router yang harus dikonfigurasi secara
manual
4.
Rentan terhadap kesalahan saat entri data routing static yang dilakukan secara
manual. [3]
II.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Pada praktikum pertemuan ke dua ini membahas tentang router statis dengan menggunakan Packet Tracer . alat- alat yang dibutuhkan untuk membuat topologi routing statis ini menggunakan Cisco router, PC, Kabel Serial DTE/DCE,
Kabel Console dan Kabel Fast Ethernet secukupnya.
Gambar 2.1 Topologi Routing Statis Sederhana
Setelah membuat skema atau topologi , selanjutnya memulai untuk
konfigurasi pada kedua router.
Gambar 2.2 Konfigurasi IP Address pada Router0
Gambar 2.3 Konfigurasi IP Address pada Router1
Apabila kedua router telah di konfigurasi, selanjutnya mengatur IP Address dan Default Gateway pada PC0
dan PC1. Namun sebelumnya IP Configuration harus diganti dengan Static, setelah itu mengisi pada PC0
dengan IP Address 192.168.0.2 dan Default Gateway 192.168.0.1
. Pada PC1 IP Address 192.168.2.2 dan Default Gateway 192.168.2.1.
Gambar 2.4 Memberikan Alamat IP Address dan Gateway
pada masing-masing PC
Melakukan kembali konfigurasi router0
dan router1. Konfigurasi router0 dengan PC0 dan juga router1 dengan PC1. Pada konfigurasi ini
memasukkan interface , alamat IP dan Subnet Mask untuk alamat yang akan dituju.
Gambar 2.5 Konfigurasi pada Router0
Gambar 2.6 Konfigurasi pada Router1
Menampilkan interface yang
telah di setting pada Router0 dan Router1 dengan perintah show
ip interface brief dan menampilkan routing
tabel secara otomatis pada router
dengan perintah show ip route.
Gambar 2.7 Menampilkan Interface dan Routing
Tabel Pada Router0
Gambar 2.8 Menampilkan Interface dan Routing
Tabel Pada Router1
Pada saat proses PING pada
masing-masing PC berhasil. Hal ini terlihat bahwa pengiriman dan terkirimnya
paket tersebut tidak ada yang gagal atupun pending.
Sehingga dapat diartikan proses routing
static juga berhasil.
Gambar 2.9 Proses Ping
pada PC satu
Gambar 2.10 Proses Ping pada PC dua
III.
KESIMPULAN
DAN SARAN
A.
KESIMPULAN
1. Static route berfungsi sempurna jika routing table berisi suatu route untuk setiap jaaringan di dalam internetwork yang telah di konfigurasi.
2. Host
pada jaringan perlu di konfigurasi yang mengarah ke default route dan gateway untuk
mencocokan dengan IP Address dari Interface local router.
3. Berhasilnya
suatu routing static tergantung pada
isian routing table
4. Routing static
digunakan untuk pengelola jaringan mengkonfigurasi informasi tentang jaringan
yang dituju secara manual.
B.
SARAN
1. Berhati-hati
dan teliti saat pengentrian data dengan static
route.
2. Penggunaan
static route sebaiknya digunakan pada
jaringan skala kecil.
3. Teliti
dalam memasukkan IP yang akan di konfigurasi antara router dengan PC.
Memperhatikan
aslab saat menjelaskan agar tidak terjadi kesalahan saat praktikum.
IV.
DAFTAR
PUSTAKA
[1] Alinazar,Alfred.2003.”Pengantar
Cisco Router”.Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada
[2] Zenhadi.
“MODUL CISCO STATIC ROUTING”.
[3] teorikomputer.2012.
“Pengertian,Kelemahan dan Kelebihan Static Routing” http://www.teorikomputer.com/2012/12/pengertian-kelemahan-dan-kelebihan.html
nice information min
BalasHapusElemen solder uap