Laporan Praktikum Internetworking Link State

LAPORAN PRAKTIKUM
INTERNETWORKING
MODUL IV LINK STATE


DISUSUN OLEH :

Pradika Destarini

15102110


Tanggal Praktikum           : 28 November 2017
Asisten Praktikum            :1. Pribadi Charisna Hanif  14101109
 2. Aditya Rizky Utama      14102047
 3. Mutia Annisa                 14102089

LABORATORIUM JARINGAN KOMPUTER
INSTITUT TEKNOLOGI TELKOM
JL. DI. PANJAITAN 128 PURWOKERTO
2017





I.               DASAR TEORI
Link-state
Algoritma link-state juga dikenal dengan algoritma Dijkstra atau algoritma shortest path first (SPF). Algoritma ini memperbaiki informasi database dari informasi topologi. Algoritma distance vector memiliki informasi yang tidak spesifik tentang distance network dan tidak mengetahui jarak router. Sedangkan algortima link-state memperbaiki pengetahuan dari jarak router dan bagaimana mereka inter-koneksi.
Fitur-fitur yang dimiliki oleh routing link-state adalah:
1.      Link-state advertisement (LSA) –adalah paket kecil dari informasi routing yang dikirim antar router
2.      Topological database –adalah kumpulan informasi yang dari LSA-LSA
3.      SPF algorithm –adalah hasil perhitungan pada database sebagai hasil dari pohon SPF
4.      Routing table –adalah daftar rute dan interface

Gambar 1.1 Konsep Link State

Proses discovery dari routing link-state
Ketika router melakukan pertukaran LSA, dimulai dengan jaringan yang terhubung langsung tentang informasi yang mereka miliki. Masing-masing router membangun database topologi yang berisi pertukaran informasi LSA.
Algoritma SPF menghitung jaringan yang dapat dicapai. Router membangun logical topologi sebagai pohon (tree), dengan router sebagai root. Topologi ini berisi semua rute-rute yang mungkin untuk mencapai jaringan dalam protokol link-state internetwork. Router kemudian menggunakan SPF untuk memperpendek rute. Daftar rute-rute terbaik dan interface ke jaringan yang dituju dalam table routing. Link-state juga memperbaiki database topologi yang lain dari elemen-elemen topologi dan status secara detail.[1]

Gambar 1.2 Jaringan Link-state discovery

Open Shortest Path First (OSPF) adalah sebuah protokol routing otomatis (Dynamic Routing) yang mampu menjaga, mengatur dan mendistribusikan informasi routing antar network mengikuti setiap perubahan jaringan secara dinamis. Pada OSPF dikenal sebuah istilah Autonomus System (AS) yaitu sebuah gabungan dari beberapa jaringan yang sifatnya routing dan memiliki kesamaan metode serta policy pengaturan network, yang semuanya dapat dikendalikan oleh network administrator. Dan memang kebanyakan fitur ini diguakan untuk management dalam skala jaringan yang sangat besar. Oleh karena itu untuk mempermudah penambahan informasi routing dan meminimalisir kesalahan distribusi informasi routing, maka OSPF bisa menjadi sebuah solusi. OSPF termasuk di dalam kategori IGP (Interior Gateway Protocol) yang memiliki kemapuan Link-State dan Alogaritma Djikstra yang jauh lebih efisien dibandingkan protokol IGP yang lain. Dalam operasinya OSPF menggunakan protokol sendiri yaitu protokol 89. Berikut adalah sedikit gambaran mengenai prinsip kerja dari OSPF:
a.       Setiap router membuat Link State Packet (LSP)
b.      Kemudian LSP didistribusikan ke semua neighbour menggunakan Link State Advertisement (LSA) type 1 dan menentukan DR dan BDR dalam 1 Area.
c.       Masing-masing router menghitung jalur terpendek (Shortest Path) ke semua neighbour berdasarkan cost routing.
d.      Jika ada perbedaan atau perubahan tabel routing, router akan mengirimkan LSP ke DR dan BDR melalui alamat multicast  224.0.0.6
e.       LSP akan didistribusikan oleh DR ke router neighbour lain dalam 1 area sehingga semua router neighbour akan melakukan perhitungan ulang jalur terpendek.[2]
OSPF dapat menangani routing jaringan TCP/IP yang besar dan membuat hirarki routing dengan membagi jaringan menjadi beberapa area.Setiap paket yang dikirim dapat dibungkus dengan authentikasi, namun protokol ini membutuhkan kemampuan CPU dan memori yang besar.
Proses dasar routing OSPF adalah menghidupkan adjency, proses flooding, dan perhitungan table routing. Router-router mengirimkan paket hello ke seluruh jaringan yang terhubung secara periodc, jika paket tidak terdengar maka jaringan dianggap down, default-nya mengirimkan 4 kali paket hello. Router- router selalu berusaha adjacent dengan router tetangganya berdasarkan paket hello yang diterima. Dalam jaringan multi access, router memilih Designated Router (DR) dan Backup Designated Router (BDR) dan mencoba adjacent dengan kedua router tersebut.
Link state routing protocol harus melakukan kalkulasi cost metric sendiri ketimbang sekedar diberitahu cost metric dari hasil informasi routing update yang dia terima. Dengan link state protocol dia mempelajari informasi topology dari routing update termasuk cost metric yang berhubungan dengan setiap link dalam jaringan. Router A melakukan kalkulasi total cost dengan setiap link di setiap route untuk mendapatkan metric yang berhubungan terhadap suatu route. Algoritma yang dipakai untuk melakukan kalkulasi route dengan link state routing adalah Shortest Path First (SPF) algorithm atau disebut Dijkstra SPF algorithm sesuai dengan nama penemunya Dijkstra. Link-state protocols tidak hanya sekedar memulai broadcast informasi topology keluar setiap interface saat router pertama kali boot. Akan tetapi Link-state protocols pertama menggunakan suatu proses dengan cara menemukan para neighbors. Neighbour bisa saja didefinisikan secara statis ketimbang harus di ketemukan (discover).[3]
Dengan kemampauan melayani jaringan lokal berskala besar. Artinya OSPF haruslah memiliki nilai skalabilitas yang tinggi, tidak mudah habis atau “mentok” karena jaringan yang semakin diperbesar. Namun nyatanya pada penerapan OSPF biasa, beberapa kejadian juga dapat membuat router OSPF kewalahan dalam menangani jaringan yang semakin membesar.  Router OSPF akan mencapai titik kewalahan ketika:
a.       Semakin membesarnya area jaringan yang dilayaninya akan semakin banyak informasi yang saling dipertukarkan. Semakin banyak router yang perlu dilayani untuk menjadi neighbour dan adjacence. Dan semakin banyak pula proses pertukaran informasi routing terjadi. Hal ini akan membuat router OSPF membutuhkan lebih banyak sumber memory dan processor. Jika router tersebut tidak dilengkapi dengan memory dan processor yang tinggi, maka masalah akan terjadi pada router ini.
b.      Topology table akan semakin membesar dengan semakin besarnya jaringan. Topology table memang harus ada dalam OSPF karena OSPF termasuk routing protocol jenis Link State. Topology table merupakan tabel kumpulan informasi state seluruh link yang ada dalam jaringan tersebut. Dengan semakin membesarnya jaringan, maka topology table juga semakin membengkak besarnya. Pembengkakan ini akan mengakibatkan router menjadi lama dalam menentukan sebuah jalur terbaik yang akan dimasukkan ke routing table. Dengan demikian, performa forwarding data juga menjadi lamban.
c.       Topology table yang semakin membesar akan mengakibatkan routing table semakin membesar pula. Routing table merupakan kumpulan informasi rute menuju ke suatu lokasi tertentu. Namun, rute-rute yang ada di dalamnya sudah merupakan rute terbaik yang dipilih menggunakan algoritma Djikstra. Routing table yang panjang dan besar akan mengakibatkan pencarian sebuah jalan ketika ingin digunakan menjadi lambat, sehingga proses forwarding data juga semakin lambat dan menguras tenaga processor dan memory..[4]








II.           HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada praktikum modul 4 yang membahas tentang cara konfigurasi routing dynamic menggunakan protokol link state OSPF dengan aplikasi Cisco Packet Tracer,

Gambar 2.1 Topologi Interkoneksi antar dua router

Setelah membuat topologi interkoneksi antar dua router, selanjutnya seperti biasa yaitu memberikan ip addres pada setiap PC. Mengatur IP address sesuai dengan yang telah ditentukan, pada PC0 diberikan IP address 192.168.0.2, subnet mask 255.255.255.0 dan Default Gateway 192.168.0.1. Sedangkan pada PC1 diberikann IP Address 192.168.2.2, subnet mask 255.255.255.0, dan Default gateway 192.168.2.1.
Gambar 2.2 Konfigurasi IP pada masing-masing PC

Saat konfigurasi OSPF pada router0 memasukkan perintah interface lo1 yaitu untuk mengaktifkan loop back yang ke-1 pada interface fa 0/0. Selanjutnya memberikan ip address pada interface loop back ke-1 dengan memasukkan perintah ip add 1.1.1.1 255.255.255.255. Pada fa 0/0 memasukkan perintah ip add 192.168.0.1 255.255.255.0 dan fa0/1 memasukkan perintah ip add 192.168.1.1 255.255.255.252. Konfigurasi OSPF di router1 sama seperti memasukkan perintah pada router0, hanya saja memasukkan perintah untuk mengaktifkan loop back yang ke-2 menggunakan int lo2 dengan ip add 2.2.2.2 255.255.255.252. pada fa0/0 memasukkan ip add 192.168.2.1 255.255.255.0 sedangkan fa0/1 memasukkann ip add 192.168.1.2 255.255.255.252.

Gambar 2.3 Konfigurasi IP Address Interface Ethernet 0/0 dan 0/1 Router0


Gambar 2.4 Konfigurasi IP Address Interface Ethernet 0/0 dan 0/1 Router1

Langkah selanjutnya kembali masuk ke mode global dan memasukkan perintah router ospf 10, hal ini berarti melakukan konfigurasi OSPF autonomous system number bernilai 10 pada router0, lalu mendaftarkan subnet kedalam tabel routing  dan area yang digunakan bernilai 0. Perintah yang dimasukkan network 192.168.0.0 0.0.0.255 area 0, network 192.168.0.0 0.0.0.3 area 0 dan network 1.1.1.1 0.0.0.0 area 0. Sedangkan pada router1 melakukan konfigurasi OSPF dengan nilai 20 dan area juga bernilai 0 serta network menggunakan IP address yang sudah dimasukkan untuk loop back yang ke-2.
Gambar 2.5 Konfigurasi loopback dan OSPF Router0
Gambar 2.6 Konfigurasi loopback dan OSPF Router1

Untuk melihat IP OSPF neighbor dan IP OSPF database pada masing-masing router dengan menggunakan perintah show ip ospf neighbor dan show ip ospf database.


Gambar 2.7 show ip ospf neighbor dan show ip ospf database

Apabila antar PC sudah dapat berkomunikasi maka konfigurasi dengan OSPF berhasil. Hal ini dapat menguji koneksi antara PC0 dan PC1 dengan masuk ke command prompt windows, lalu masukkan perintah ping 192.168.2.2. Jika reply maka konfigurasi yang telah dilakukan sudah benar, akan tetapi jika RTO maka ada kesalahan pada saat melakukan konfigurasi. Sehingga konfigurasi dynamic routing dengan OSPF yang telah dilakukan pada praktikum kali ini berhasil.

Gambar 2.8 PING pada Router







III.        KESIMPULAN DAN SARAN
A.    KESIMPULAN
1.      Loop back berfungsi untuk membuat interface pada setiap router selalu dalam keadaan aktif saat akan melakukan transfer data.
2.      Menampilkan route dari tetangga dan database menggunakan perintah #show ip ospf neighbor dan #show ip ospf database untuk menampilkan database.
3.      Saat konfigurasi OSPF angka yang digunakan pada setiap router menggunakan autonomous system number yang berbeda.
4.      Pada konfigurasi OSPF menggunakan area yang sama yaitu “0”.

B.     SARAN
1.      Perhatikan saat memasukkan perintah subnet mask pada konfigurasi OSPF.
2.      Pastikan bahwa alamat loop back yang dimasukkan berbeda, karena satu alamat loop back hanya bisa digunakan untuk satu router.
3.      Pastikan interface harus berhubungan langsung dengan router neighbor bukan ke client.
4.      Pastikan pada setiap end devices sudah dikonfigurasi ip gateway yang digunakan.
IV.        DAFTAR PUSTAKA

[1] Syamsu,Suryadi.”BAB 6 KONSEP ROUTING”.STMIK AKBA”. http://dinus.ac.id/repository/docs/ajar/Materi_Routing.pdf.

[2]          Anonymous.”Konfigurasi Dasar OSPF”.
mikrotik.co.id/artikel_lihat.php?id=154.

[3]          Sudiyanto, Prasojo.2016.”MODUL IV : LINK STATE”.Purwokerto:ST3 TELKOM.

[4] Aryanta, Dwi.2014.“Perancangan dan Analisis Protocol OSPF dan EIGRP”.Bandung:ITN Bandung.







0 Response to "Laporan Praktikum Internetworking Link State"

Posting Komentar